Senin, 21 Maret 2011

The Love For Happy Together Part.3

Dina dan Vandi pun duduk di ruang tamu di rumah Layla. Sejenak mereka terdiam. Layla sedang menerima telepon di ruangan lain. Vandi pun membuka suaranya.

”Aku tidak menyangka kau rupanya sahabat Layla.”

Dina tersenyum, dia pun juga menjawabnya.

”Aku juga tidak menyangka kalau sepupunya adalah kau.”

Mereka pun tertawa kecil mendengar perkataan masing-masing.

”Sungguh tidak terkira kita bertemu lagi disini.”

”Iya. Oh iya, katanya kau sekelas denganku. Tetapi aku tidak pernah melihatmu dikelas.”tanya Dina.

”Oh itu. Kau sudah mendengar apa yang dikatakan Layla kan? Aku orangnya sangat sibuk.”jawab Vandi. Dina mengangguk mengerti.

”Memangnya kau sibuk apa?”tanya Dina lagi. Vandi tersenyum lagi.

”Urusan bisnis.”

”Oh.” Dina pun terdiam. Dia tidak tahu apa yang harus ditanyakan lagi.

”Bagaimana?”tanya Vandi.

”Apanya?”

”Kau sudah tenang? Apa kau bisa menceritakan kepadaku kenapa kau menangis tadi?”

Dina tertegun mendengar pertanyaan Vandi. Dina terdiam memikirkannya.

“Itu….aku….”

Tiba-tiba ponsel milik Dina berdering. Dina pun langsung mengangkatnya.

“Halo. Apa? Buku? Tunggu sebentar.” Dina pun memeriksa tas yang dibawanya. Tidak lama, dia pun menepuk dahinya. Vandi tertawa kecil melihat kepanikan Dina.

”Ah iya! Bukumu memang ada padaku. Baiklah. Sekarang aku akan kesana. Sampai jumpa.” Dina pun mengakhiri percakapannya diponsel. Dia pun memandang Vandi dengan sedikit menyesal.

”Maaf, Vandi. Aku ada urusan….”

”Tidak apa-apa. Kau pergi sajalah. Biar aku yang katakan kepada Layla.” Vandi memotong pembicaraannya.

”Terima Kasih.” Dina pun meninggalkan Vandi dengan buru-buru. Vandi hanya tersenyum melihatnya sampai jauh.

Layla pun datang.

”Maaf, aku lama. Tadi ada telepon. Eh? Mana Dina?”tanya Layla sambil duduk disamping Vandi.

”Dia pergi ada urusan.”jawab Vandi sambil meminum teh yang sudah tersedia di meja.

”Oh begitu. Ngomong-ngomong, Vandi. Bagaimana kau bisa mengenalnya? Memangnya dimana kau mengenalnya?”tanya Layla bertubi-tubi karena penasaran. Vandi pun tertawa.

”Hei! Orang sedang bertanya, kau malah tertawa?”kesal Layla melihat sikapnya.

”Bukankah waktu itu aku sudah pernah mengatakannya kepadamu?”

”Hah?” Layla tetap tidak mengerti.

”Gadis yang kutemui sedang menangis ditaman.”ujar Vandi.

”Oh! Maksudmu gadis itu adalah dia?”tanya Layla tidak percaya. Vandi mengangguk.

”Apa? Oh…” Layla mengangguk. Saat Vandi melihat kebawah. Dia menemukan sebuah foto yang terjatuh. Rupanya saat Dina sedang memeriksa tasnya, dia tidak menyadari bahwa foto miliknya terjatuh dilantai. Vandi pun mengambil dan mengamatinya.

”Bukankah ini Dina, Rava dan Lia?”tanya Vandi yang membuat Layla pun memperhatikannya.

”Iya benar, memang mereka.”

”Hah?” Vandi mengernyitkan dahinya.

”Mereka ini sahabat satu sekolah semasa SMA. Lihat Dina dulu kan begitu buruk.”

”Tapi sekarang dia berubah.”

”Tentu saja dia berubah karena dia sedang berjuang….” Layla langsung menutup mulutnya. Hampir saja dia membocorkan rahasia Dina karena dia sudah berjanji kepadanya untuk tidak memberitahukan siapa pun.

”Berjuang apa?” Vandi semakin penasaran.

”Ya. Tentu saja berjuang untuk dirinya sendiri. Karena dia bosan jadi orang buruk.”jawab Layla berbohong sambil tersenyum. Vandi hanya terdiam.

”Layla. Kau bilang dia adalah sahabatmu.”tanya Vandi lagi. Layla mengangguk.

”Apa kau tahu alasan kenapa dia menangis ditaman?”

Layla tertegun mendengar pertanyaan Vandi. Layla jadi salah tingkah.

”Uhm… Maaf, Vandi. Aku mau ke kamarku dulu. Aku lupa kalau aku harus mengembalikan buku ke Eza.” Layla langsung ke atas meninggalkan Vandi yang mulai sedikit curiga dengannya. Dia pun memperhatikan foto itu lagi.

”Dina, Rava, dan Lia?”gumamnya dengan penasaran.

”Maafkan aku.”ucap Dina menyesal kepada temannya di kampus.

”Sudahlah, tidak apa-apa Dina. Yang penting kau sudah mengembalikan bukuku.”ujar temannya sambil menepuk bahunya lalu dia pun pergi. Dina pun jadi lega. Dia pun berbalik menyusuri lorong kampus.

Dia pun melewati taman. Dan dia terkejut bertemu dengan seseorang.

”Lia?”panggilnya tepat didepan Lia yang sedang jalan. Lia pun ikut terkejut melihatnya.

”Dina.”

Mereka berada dikafe. Mereka pun duduk berhadapan. Lia meminum kopi hangat karena suasana sedang dingin. Sedangkan Dina awalnya terdiam, tidak lama dia pun ikut meminum kopi. Lia yang melihat Dina langsung meletakkan gelasnya.

”Dina. Aku tidak menyangka kau jadi berbeda dengan yang dulu.”ujar Lia sambil tersenyum. Dina pun berhenti minum dan dia pun meletakkan gelasnya. Sambil berusaha menghilangkan rasa sakit hatinya. Dia pun ikut tersenyum.

”Oh, iya?”

”Iya. Kau jadi terlihat lebih cantik dibanding yang dulu.” puji Lia.

”Terima kasih.” ucap Dina.

”Tapi biasanya kau tidak suka diet. Kenapa tiba-tiba kau bisa berubah pikiran?”tanya Lia.

Dina tertegun mendengarnya. Dia harus mengingatkan dirinya, meskipun Lia adalah sahabatnya yang dulu, sahabat yang sering dijadikan tempat curhatnya. Namun kini sudah berbeda. Kini dia tidak hanya sahabat, dia adalah tunangan Rava. Dina pun berbohong kepadanya.

”Karena aku bosan jadi orang yang buruk.”

”Uhm…. begitu ya?” Lia kembali meminum kopi hangatnya. Dina terus memandanginya.

”Lia. Bagaimana kau bisa menyukai Rava dan menjadi tunangannya?” Akhirnya Dina pun memberanikan dirinya bertanya kepada Lia.

Lia tertegun mendengarnya. Dia jadi sedikit kikuk. Kemudian dia pun meletakkan gelasnya.

”Oh itu. Awalnya aku tidak menyukainya, Dina. Karena aku tahu kau masih menyukainya. Namun sejak kau pindah, dia semakin mendekatiku. Tentu aku yang masih menganggapnya sahabatku jadi malah aku yang terus curhat dengannya. Kau tahu waktu itu aku masih memiliki kekasihkan?”

Dina mengangguk.

”Dia memutuskanku. Waktu itu, suasana hatiku benar-benar sangat buruk. Tetapi Rava yang selalu menghiburku disaat aku sedang duka. Dan tiba-tiba dia menyatakan perasaannya.” Lia berhenti sejenak sambil meminum kopinya. Dina masih tetap setia menunggu kelanjutan ceritanya. Lia pun melanjutkannya.

”Awalnya aku tidak menerimanya karena aku mengingatmu yang masih menyukainya dan tentu aku tidak pernah menyukainya. Namun dia tetap mengejarku. Dan akhirnya aku pun luluh. Tidak lama hubungan kami direstui orang tua kami dan kami pun bertunangan.” Lia pun kembali meminum kopi.

Dina hanya bisa terdiam sambil meminum kopinya juga.

”Dina.”panggil Lia. Dina pun memandangnya.

“Kau tidak apa-apa kan? Aku takut kau akan membenciku karena hal ini. Aku tidak mau dianggap mengkhianati sahabatku sendiri.”

Dina tertegun mendengarnya. Dina berusaha tabah dan menahan kesedihannya.

Dina pun tersenyum.

“Tidak apa-apa, Lia. Bukan salahmu juga. Dia yang menyukaimu, bukan aku. Aku mengerti hal itu.”

“Sungguh? Terima kasih.” Lia pun menggenggam tangan Dina dengan lega. Dina hanya tersenyum melihatnya. Padahal hatinya kini kembali jadi sesak mendengar cerita Lia tadi.

Dina masih terus mengingat cerita Lia tadi siang. Dirinya sungguh tidak mengira kalau Lia begitu masih mengingat persaannya. Namun apa daya, mungkin memang bukan takdir. Dia harus tetap menerima keputusan Rava menjadi milik Lia. Bukan dirinya. Layla langsung masuk ke kamar Dina.

”Hai, Dina! Kau sedang apa? Malam-malam begini kau melamun lagi.”ujar Layla yang begitu mengagetkan Dina.

”Tidak apa-apa.” Dina menggeleng kepalanya.

”Oh. Begitu.”

Dina langsung mengambil mantel dan tasnya. Layla terkejut melihatnya.

”Kau mau kemana, Dina?”

”Aku mau keluar cari udara segar.”jawab Dina sambil tersenyum.

Dina pun keluar meninggalkan Layla yang masih terdiam bingung.

Dina terus berkeliling di sekitar kota. Mencari ketenangan dirinya. Dari pertama kali kuliah sampai sekarang rasanya Dina terus sakit kepala dan hati. Sungguh tidak bisa mengawali hari-harinya dengan gembira. Entah bagaimana cara melupakan rasa sakit hatinya kepada mereka.

Dina terus menggosok tangannya yang sudah bersarung tangan. Cuaca malam ini begitu sangat dingin. Sesekali dia mengelus kedua lengannya sendiri memberi kehangatan kepada dirinya. Kemudian dia melihat sebuah toko. Dina pun masuk kedalam dan memesan minuman kopi hangat.

Dina pun keluar sambil minum kopi pesanannya. Dia melanjutkan perjalanannya.

Menyusuri kota-kota yang begitu terang dan indah. Dina jadi terhibur melihat lampu-lampu yang menerangi kota begitu sempurna. Sesekali dia melihat pasangan-pasangan bahagia yang dilewatinya.

Dina kembali muram melihatnya. Tidak lama, dia pun menggelengkan kepalanya sendiri untuk tidak terlalu memikirkannya. Dia kembali meminum kopinya sampai habis.

Dina meminum kopinya namun dia baru sadar kalau kopinya sudah habis. Dia melihat sekeliling mencari kotak sampah. Dia menemukannya lalu dia berlari dan membuang gelas plastik itu. Tidak jauh dari hadapannya, dia melihat sosok yang dikenalnya yang sedang menunggu seseorang di depan sebuah butik.

”Lia.” Dina terus memerhatikannya. Tidak lama sebuah mobil datang dihadapannya. Rava keluar dari mobilnya.

Lia tersenyum dan berlari sambil memeluk Rava.

”Maaf, lama ya?”tanya Rava.

”Iya. Kau ini membuatku menunggu kedinginan seperti ini. Aku hampir saja beku!”kesal Lia ngomel. Rava tertawa.

”Maafkan aku, sayang.”ucap Rava sambil membelai kepalanya. Namun tetap saja Lia cemberut. Rava tertawa melihatnya.

Dina tertegun melihatnya.

Vandi yang sedang jalan-jalan malam. Dia menghentikan langkahnya karena tidak sengaja melihat Rava dan Lia di depan kap mobilnya.

”Huh! Dasar pasangan norak!? Tidak tahu malu berpelukan ditempat umum. Ckckck…” Vandi menggeleng kepalanya dengan heran. Namun tatapannya menangkap Dina sedang memperhatikan mereka.

”Bukankah itu Dina?” Vandi menyipitkan matanya untuk melihatnya dengan jelas. Namun dia tertegun melihat Dina langsung mengeluarkan air matanya dengan terdiam.

”Kenapa dia menangis?” Vandi memperhatikan Dina. Lalu mengikuti arah tatapan Dina yang melihat Rava dan Lia yang sedang berpelukan

Vandi pun memikirkannya. Dan dia pun menyadarinya.

Dina pun terpaksa mengeluarkan air matanya. Dia tidak bisa menahan kesedihannya.

Dia tidak tahan melihatnya, dia pun berbalik bermaksud pergi dari tempatnya namun dia menabrak tubuh seseorang. Dina pun mendongakkan kepalanya. Dina terkejut.

”Vandi.”panggilnya dengan lirih. Vandi tidak menjawabnya, dia malah memerhatikan pasangan di depan butik itu.

”Sudahlah, Rava! Ayo kita masuk. Aku sudah kedinginan nih.”keluh Lia sambil mengelus lengannya sendiri. Rava pun membuka pintu untuk Lia dan Lia pun memasuki mobil itu begitu juga Rava. Mereka pun meninggalkan tempat butik itu. Sementara Dina berbalik menatap kepergian mobil itu sampai jauh

”Aku rasa. Aku sudah mengetahui alasan kenapa kau selalu menangis.”

Dina tertegun mendengarnya.

”Apa maksudmu?”tanya Dina bingung.

”Kau menangis karena kau menahan rasa sakit hatimu kepada Rava yang sudah menjadi tunangan Lia kan?”

Jawaban Vandi membuat Dina terkejut.

“Hah? Apa maksud ucapanmu itu? Aku sama sekali tidak mengerti.” Dina berusaha mengelaknya sambil melewatinya, menghindarinya.

”Lalu apa maksud foto ini?” Vandi menunjukkan foto milik Dina yang terjatuh di rumah Layla tadi. Dina berhenti dan berbalik. Terkejut melihat Vandi memegang fotonya.

”Bagaimana kau bisa mendapatkan foto itu?”tanya Dina sambil mengambil foto yang dipegang Vandi.

”Kau menjatuhkannya di rumah Layla.”

Dina terdiam.

”Jawab pertanyaanku. Benarkan yang aku katakan tadi?” lagi-lagi Dina tetap diam. Vandi pun menariknya, membawa ke suatu tempat.

Vandi membawakan dua gelas kopi hangat. Satu gelas diberikannya ke Dina. Dan dia langsung meminum kopi hangat itu. Sementara Dina masih tetap memegang gelasnya. Mereka duduk di bangku taman. Suasana masih tetap dingin sesuai dengan perasaan Dina saat ini.

”Apakah dia tahu perasaanmu?”tanya Vandi.

Dina menggeleng kepala. Tetap dengan posisinya yang sambil menunduk. Vandi pun meletakkan gelasnya begitu juga milik Dina.

”Hhhh…. Dina. Aku mengerti perasaanmu. Tetapi bukankah kau tidak harus selalu sedih melihatnya.”

Tiba-tiba air mata Dina kembali jatuh. Vandi jadi terdiam melihatnya.

”Dina. Apa kau membawa saputanganku?”

Dina mengangguk. Lalu dia mengeluarkan sapu tangan milik Vandi dari tasnya. Dan diberikannya ke Vandi. Vandi malah menyeka air mata Dina sehingga Dina terkejut melihatnya.

”Vandi?”

”Kenapa setiap kita bertemu, kau selalu seperti ini? Padahal aku tidak mau kalau bertemu denganmu selalu dalam keadaan sedih. Aku lebih senang melihatmu tersenyum dan tertawa dihadapanku, Layla, dan yang lainnya. Aku tidak mau terus melihatmu terpuruk dalam perasaanmu yang sedang sedih.”ujar Vandi tetap menyeka air matanya sampai kering.

Namun air mata Dina kembali terjatuh. Kini dia menangis dihadapan Vandi. Vandi berhenti menyekanya.

”Dina.”

Dina langsung memeluknya, mengeluarkan semua air mata yang ditahannya. Dia terus menangis terisak.

”Lalu apa yang harus aku lakukan, Vandi? Bagaimana caranya agar aku tidak terus sedih? Bagaimana caranya agar aku bisa ceria? Bagaimana caranya agar aku bisa bahagia melihat mereka bahagia? Bagaimana caranya?!” teriak Dina sambil memukul dada Vandi. Vandi pun menahan rasa sakitnya. Dina terus menangis terisak. Sementara Vandi pun membalas pelukan Dina dan membelai kepalanya untuk menenangkannya.

Vandi tidak mengira Dina begitu menderita dengan perasaannya.

TO BE CONTINUED……………………………..

Jumat, 18 Maret 2011

Liburan penuh petaka di Puncak

Di sebuah cafe di daerah Jakarta Barat....

“ Gais, liburan kemana ne kira-kira?” tanya seorang cowok yang nampak lebih tua banding ke 9 teman nya yang lain.
“ gak tau ne, Mil. Lagi gak ada duit “ ucap cewek yang berkulit putih.
“ eh, Gi, Yol, Jen, Yul , Ti, Mil,Jhon, Bal, Gil gimana kita coba undian yang disana ?” ucap Olga menunjuk sebuah tempat undian ke Puncak
“ Gile lo, di antara kita semua kan gak ada yang hoki-hoki amat “ ucap Yolanda menepuk tangan Olga yang duduk di samping nya.
“ eh, gak ada salah nya nyobak kali lagian tuh liat tulisan nya gratis “ ucap Jenny

Mereka pun mendatangi tempat undian itu saat Jamil memutar tempat undian yang keluar adalah bola emas mereka dapat hadiah utama ke Puncak selama 1 minggu danginap di villa dan untung nya itu untuk 10 orang.

Saat di suruh menandatangani surat penyataan mereka di suruh stam pakai darah. Dalam hati Anggi, Yolanda ,Jenny serta Jhonatan, Iqbal “ kok kayak nya aneh ya ?” ucap mereka akhirnya mereka tidan stam pakai darah mereka melain kan memakai tinta merah karna mereka merasa ada sesuatu. Dan penjaga loket itu hanya tersenyum meliat mereka berlima.

Sampai di depan rumah itu nampak terawat dan bersi serta Villa itu cukup mewah penjaga memberitau.” Tanga sebelah kana untuk para wanita dan sebelah Kiri untuk laki-laki. Jangan keluar ketika malam itu berbahaya “ ucap penjaga villa tersenyum.

Saat anak-anak cewek masukin kamar nya. dia kamar Jenny, yolanda, dan Anggi nampak bersi namun saat mereka melihat kamar Hasti dan Yulia nampak kotor tapi tetap saja mereka berdua bilang “ kmar kami ini sudah sangat bersi Jenny “ ucap mereka berdua dan jadi Jenny tak bisa bilang apa –apa lagi. Tidak jauh beda dengan Jonatan dan Iqbal kejadian mereka pun seperti itu.

Ke esokan pagi nya di meja makan....

“ wah nampak nya makanan nya enak ne, ucap Jamil. Jonatan , Iqbal yang melihat Mie goreng itu nampak melihat cacing begitu pula dengan Anggi, Jenny & Yolanda. Tidak ingin mengangu selera makan temannya.

“ pak , ada roti “ tanya Jonatan
“ ada den “ ucap Penjaga vila itu. Akhirnya mereka berlima hanya memakan Roti
“ kenapa kalian makan roti mie nya kan enak “ ucap Hasti
“ engak lagi pengen Roti aja iya kan yol “ ucap Anggi
“ yap” Yolanda.

Mereka mengitari villa dan bermain di dalam Kolam renang bersama. Pada malam hari nya Jamil nampak keluar dari kamar pada hal sudah dilarang oleh penjaga Villa karna saat malam Villa itu tidak aman dan penjaga Villa juga tidak ada di tempat malam itu. Kamar Anggi yang balkon kamar nya langsung bisa melihat kolam renang melihar Jamil beranang tapi tak dia pedulikan dia hanya menulis diari nya...

Kenapa sih dia ...
tak pernah sadar apa yang ia lakukan , selalu dan selalu menyakiti ku!! aku membencinya !!

Itu yang di tulis Anggi saat ia menulis itu ia melihat Jamil seperti tertarik kedalam air dan dalam beberapa detik darah banyak keluar membuat Kolam renang itu menjadi merah karna itu Anggi berteriak sekencang-kencang nya dan menagis saking terkejut nya, Semua orang mendatangi kamar nya.

“ Anggi ada apa?”tanya Yolanda panik
“ liat di bawah “ ucap Anggi yang masih Syok selepas apa yang ia liat barusan.
“ A.....” teriak semua anak perempuan...
“ Jamil , dia meningal “ ucap Jenny saat mereka ingin menuju kolam renang ada sebuah suara yang mengaget kan mereka.

“ jangan keluar malam, kalau kalian tidak ingin mati “ kata penjaga villa
“ tapi, Jamil pak ?” ucap Iqbal
“ itu kesalahan nya karna dia tidak mau dengar kata-kata saya.”ucap penjaga Villa itu
“ kalo begitu besok pagi kami mau pulang “ ucap Jonatan
“ kalian tidak bisa pulang sampai 1 minggu kedepan semua tempat berbahaya untuk kalian sekali kalian melakah keluar dari rumah ini kalian mati “ ucap penjaga villa itu
“ kenapa seperti ini “ tanya Hasti
“ karna kalian , telah menandatangani surat itu dengan darah. Dan setiap orang itu akan mati bila tidak berhati-hati “ ucap penjaga Villa .
“mati lah kita “ Olga
dalam hati, Jonatan, Yolanda, Jenny, Anggi,& Iqbal “ aku tak menandatangani nya dengan darah berarti aku takan mati kan “ ucap batin mereka

Sementara Hasti, Olga, Yulia & Agil “ Mati aku, aku takan mati kan “ ucap batin mereka

“ tapi kalian bisa selamat dengan menghancurkan rantai kematian itu”
“ gimana carnya pak “ ucap mereka
“ kalian harus mengacaukan rangkaian kematian itu, kalo tidak salah selanjut nya Olga maka jangan sampai dia mati kalian harus korbankan salah satu dari kalian sendiri “ ucap penjaga Villa itu lalu pergi.

Mereka kembali kekamar masing-masing, Olga yang ketakutan menuju kamar Anggi dan memukul kepala Anggi sampai berdarah, sudah memastikan dia mati, Olga memasukan nya ke dalam kamar mandi.

Tapi nyatanya pagi hari nya yang terlihat adalah Olga jatuh dari tanga dan di bawah tangga nampak beberapa pisau tajam, sementara mereka tak bis temukan Anggi.

Malam selanjut nya adalah giliran Hasti, dia ketakutan setengah mati menuju kamar Yolanda dan berniat membunuh nya Hasti melakukan cara yang sama seperti Olga lakukan pada Anggi.

Saat sudah keluar dari kamar Yolanda, Hasti menuju kamarnya tapi yang ada malah Agil sedang ingin membunuh Yulia, dia mencoba menghentikan perbuatan Agil tapi nyatanya pisau Agil tanpa sengaja terkena di jantung hasti.

“ kau bukan malah menghancurkan rangkaiaan kematian itu malah mempercepat nya dan sekarang adalah Giliran ku, Agil kau akan mati “ ucap Yulia , namun Agil berhasil mengelak
“ dari pada kita berdua bertengkar mending kitta bunuh saja Iqbal” ucap Agil. Mereka mencari Iqbal namun tak ada begitu pula ,dengan Jenny, dan Jonatan, akhirnya mereka, saling menyakiti, Yulia berhasil membunuh Agil malam jatuh dari tanga da terkena paku-paku tajam dan mati...

Sementara ke lima anak tadi...

“ aduh , aku dimana ??” ucap Yolanda yang baru sadar
“ kau pikir aku tau , “ ucap Jenny yg sedang duduk bersama Anggi, Iqbal, & Jonatan.
“ kita terkurung disini, sampai 2 hari lagi baru kita lepas, mereka berlima sudha mati “ ucap Jonatan membuat Yolanda menjadi murung.

2 hari kemudian pintu di bukakan dan ke 5 sahabat itu mendatangi makam teman-teman nya.
“ kita berlima tidak ikut dalam hal ini karna kita berstam bukan dengan dara melain kan tinta itu karna nya kita tidak mati walau di pukul oleh mereka kita hanya pingsan. Seandai nya mereka tau. Apa yang terjadi” ucap Yolanda
“ ya lebih baik hal ini hanya Kita berlima yang tau jangan sampai yang lain “ ucap Jenny
“ ya , kami setuju “ ucap Jonatan, Iqba & Anggi.

Mereka pun melangkah pergi dari kuburan teman-teman mereka dengan jalan sendiri-sendiri...

Rabu, 02 Maret 2011

The Love For Happy Together Part.2

Dina masih terus menangis ditempatnya. Seorang pemuda datang menghampirinya sambil menyodorkan saputangan miliknya. Melihat itu, Dina mendongakkan kepalanya untuk melihat pemuda dengan jelas. Seorang pemuda tampan dengan jaket coklatnya. Pemuda itu berjongkok didepan Dina yang masih berlutut.

”Kau tidak apa-apa?”tanya pemuda itu sambil tersenyum.

Dina menggeleng pelan.

”Pakailah saputanganku ini.” Pemuda itu pun terus menyodorkan saputangannya.

Dina pun menerima saputangannya dan menghapus airmatanya yang membasahi pipinya.

”Terima kasih.”ucap Dina sambil berdiri. Pemuda itu pun ikut berdiri.

”Tapi saputanganmu…..”

”Kau pakai sajalah.”potong pemuda itu.

Dina pun tersenyum. Pemuda itu jadi terpesona melihat senyuman Dina yang begitu manis.

”Kalau begitu. Nanti aku akan kembalikan saputanganmu. Aku pergi dulu ya.”

Dina pun meninggalkan pemuda itu yang masih terpana dengan senyuman Dina tadi. Ponselnya pun berdering.

”Halo.”jawabnya.

”Vandi! Kau dimana? Kami sedang menunggumu dikafe.”ujar yang ternyata sepupunya, Layla.

”Iya. Aku akan segera kesana.”

Vandi mengakhiri percakapannya dan dia langsung menuju ke kafe.

Keempat orang itu sedang asyik bercanda dikafe. Dan Vandi langsung duduk bergabung.

”Vandi. Kau tadi dari mana saja? Kami sudah lama menunggumu.”omel Layla kepada sepupunya. Vandi tertawa cekikikan.

”Maaf ya. Tadi aku bertemu dengan seorang gadis.”

”Hah? Gadis?”heran Rava.

”Iya. Tadi dia sedang menangis. Karena kasihan, jadi aku memberikannya saputanganku.”

”Wah…. sejak kapan kau jadi peduli begitu? Biasanya cuek.”jahil Lia.

”Tentu saja tidak denganmu. Karena kau itu tunangannya.”balas Vandi. Mereka pun tertawa mendengarnya.

”Hahahaha…. Ngomong-ngomong, siapa gadis itu?”tanya Eza penasaran.

”Entahlah. Aku tidak tau namanya, karena aku belum mengenalnya.”

”Aih! Kau ini bagaimana sih? Kenapa tidak langsung berkenalan dengannya?”kata Layla sambil memukul kepala Vandi.

”Bukannya begitu. Masalahnya dia langsung pergi begitu aku memberikan saputanganku.” Vandi melindungi kepalanya agar Layla tidak memukulnya lagi.

”Lagi pula senyumannya. Baru kali ini aku melihat senyuman seorang gadis yang begitu manis dan indah seperti bidadari.”lanjut Vandi sambil menerawang memikirkan senyuman Dina.

Layla, Eza, Rava, dan Lia saling berpandangan mendengarnya.

”Vandi. Sepertinya kau sedang jatuh cinta ya?”tebak Rava yang membuyarkan lamunan Vandi. Vandi hanya tersenyum.

”Mungkin.”

Malam harinya, Dina terus melamun mengingat kejadian tadi siang. Sungguh tidak menyangka kalau Rava mencintai Lia. Bukan dirinya. Dina memandang foto yang menggambarkan dirinya bersama Rava dan Lia sejak SMA. Tanpa disadarinya, airmatanya kembali jatuh di atas foto itu. Dina pun kembali bersedih.

Layla yang ke kamar Dina terkejut mendapatinya sedang bersedih.

”Dina? Kau kenapa?”tanya Layla sambil mendekati Dina.

Melihatnya datang, Dina langsung menghapuskan airmatanya.

”aku tidak apa-apa, Layla.”

”Tapi kau menangis.”

Layla melihat foto yang dipegang Dina.

”Ini kan Rava dan Lia kan?”

Dina mengangguk.

”Oh iya, kalian kan bersahabat. Lalu apa yang membuatmu menangis?”tanya Layla lagi. Dina tidak menjawabnya.

”Dina. Ceritakanlah padaku. Kau kan sudah berjanji kalau kita adalah sahabat.”

”Sahabat?” Dina memandang Layla dengan serius. Layla mengangguk.

”Kalau aku cerita, apakah kau bisa kupercaya?”tanya Dina membuat Layla mengernyitkan dahinya.

Rava mengacak-acak seisi laci dikamarnya. Dia sedang mencari sebuah album. Dan dia pun menemukannya. Diambilnya album itu yang sudah berdebu. Dia meniupnya agar debu-debu itu hilang dari albumnya. Kemudian dia duduk disofa. Dengan perlahan, dia pun membuka album itu. Rava tersenyum melihat macam-macam fotonya bersama Dina waktu SMA.

”Dina begitu jelek penampilannya dulu. Tapi sekarang dia jadi cantik. Aku heran memangnya ada kejadian apa ya membuatnya berubah begitu? Tapi aku senang melihatnya apalagi senyumannya lebih indah dibanding yang dulu.”pikir Rava sambil mengelus foto itu.

“Cinta pertamamu itu adalah Rava dan Lia adalah sahabatmu?”heran Layla kaget. Dina mengangguk sambil menahan kesedihannya.

“Tapi mereka bertunangan.”

“Makanya itu. Aku sudah tidak tahu apa yang harus aku lakukan lagi. Semua usahaku telah sia-sia. Aku harus melupakannya. Aku tidak mungkin tega menghancurkan kebahagiaan mereka jika aku tetap egois untuk memilikinya.”ucap Dina.

Layla pun mendekati Dina dan membelai kepala sahabatnya.

”Aku mengerti. Kau yang sabar saja ya. Aku yakin kau pasti bisa melupakannya dan menemukan penggantinya yang lebih baik.”hiburnya.

”Terima kasih, Layla.” Dina kembali tersenyum merasa terhibur dengan perkataan Layla.

”Oh iya. Aku punya sepupu. Dia sudah datang kesini. Dia juga mahasiswa satu kampus dengan kita dan mengambil jurusan yang sama, ekonomi. Bagaimana kalau aku perkenalkan dia kepadamu?”tanya Layla dengan sifat cerianya. Dina tersenyum mendengarnya.

”Kau mau kan?”bujuk Layla. Dina hanya bisa mengiyakan. Lalu Layla memeluknya.

”Baik. Aku akan menghubunginya. Kapan dia bisa menemuimu. Soalnya dia orangnya suka sibuk.”

Kemudian Layla pun keluar dari kamarnya.

Ponsel milik Dina berdering. Segera dia mengambilnya. Dahinya mengernyit melihat nomor yang tidak dikenalnya. Segera dia mengangkatnya.

”Halo.”jawab Dina.

”Halo. Dina ya? Ini Rava.” Rupanya dari Rava. Hati Dina kembali berdebar mendengarnya.

”Oh. Rava. Aku kira siapa.”ujar Dina sambil berusaha menahan debaran hatinya.

”Uhm… Besok kau ada waktu? Aku ingin mengajakmu makan dan kita mengobrol-ngobrol. Karena kita kan sudah lama tidak berjumpa.”ajak Rava membuat Dina terdiam memikirkan tawarannya.

”Aku harus menerimanya atau tidak?”batin Dina yang rupanya bingung dengan tawarannya.

”Dina?”panggil Rava yang tidak mendengar suara Dina.

Dina pun menyadarkan dirinya dan menjawabnya dengan tersenyum.

”Baiklah. Besok aku bisa.”

”Oke. Besok kita ketemu dikafe setelah pulang dari kuliah.”

Dina pun mengiyakan sekaligus mengakhiri percakapannya.

Dina pun duduk ambruk dikasurnya. Hatinya berkecamuk memikirkannya.

”Apa yang harus aku lakukan?”tanya Dina kepada dirinya sendiri.

*****

Dina sedang duduk dikafe sementara Rava sedang mengambil pesanannya. Kemudian dibawanya pesanan itu ke meja Dina. Rava memberikan roti ke Dina dan Dina pun menerimanya.

”Dina, aku sungguh tidak mengira kalau dirimu ini adalah Dina yang dulu.”

Dina menghentikan aksi makannya. Dan dia menatap Rava.

”Kenapa kau bisa berpikir begitu?”

Rava tersenyum mendengar pertanyaan Dina.

”Dulu kau kan jelek. Sekarang kau berubah. Jadi cantik dan senyumanmu yang dulu kini semakin indah. Aku jadi menyukai dirimu seperti ini.”

Hati Dina berdebar mendengar pujian Rava. Dina langsung meminum jusnya agar wajahnya yang merona tidak terlihat oleh Rava.

”Rava, bagaimana kau bisa mencintai Lia?”tanya Dina.

Rava terdiam, tersenyum sambil menggarukkan kepalanya yang tidak gatal.

Lalu dia memohon kepada Dina dengan menyesal.

“Dina. Maafkan aku. Bukan maksudku menyakitimu.”

Dina jadi bingung melihat sikapnya.

”Aku jatuh cinta padanya sejak pertama kali aku bertemu dengannya. Kau pasti masih ingatkan waktu aku berkenalan denganmu?”

Dina mengangguk.

”Aku mendekatimu karena ingin kenal lebih dekat dengan dia.”

Dina terbelalak mendengarnya. Hati Dina jadi sedih.

”Tapi bukan maksudku memanfaatkanmu. Aku juga senang bersahabat denganmu. Berkatmu, aku jadi bisa kenal dekat dengan dia. Kau mengertikan? Kau tidak marah kan?”tanya Rava yang mulai khawatir melihat raut Dina yang begitu terkejut.

Dina menggeleng sambil tersenyum.

”Tidak apa-apa, Rava. Aku mengerti. Aku senang bisa dianggap jadi sahabat yang berguna bagi kalian.”jawabnya sambil menahan kesedihan. Dia tidak ingin menangis dihadapan Rava. Rava tersenyum lega. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Rava pun mengangkatnya.

”Halo, Lia? Iya? Oh… Baiklah. Sebentar lagi aku akan menjemputmu.”ucap Rava sambil menutup ponselnya.

”Maaf, Dina. Sepertinya kita tidak bisa mengobrol lebih lama lagi. Kau tidak apa-apa kan kalau aku tinggalkan kau sendiri?”tanya Rava.

”Tidak apa-apa, Rava. Kau pergilah menjemputnya. Nanti dia akan kelamaan menunggumu.”jawab Dina. Rava pun pergi meninggalkannya di kafe.

Dina kembali memakan rotinya. Dan air matanya pun terjatuh menyatu dengan rotinya. Kini Dina bisa mengeluarkan air matanya tanpa dihadapan Rava.

Vandi memasuki kafe dan memesan pesanannya. Dia melihat sekeliling ruangan di kafe itu dan dia melihat Dina yang sedang makan roti sambil menangis terdiam. Lalu Vandi membawa pesanannya ke meja Dina.

”Hai.”sapa Vandi membuat Dina sedikit terkejut melihat kedatangannya.

”Kau?”

Vandi tersenyum.

”Sepertinya setiap kali aku bertemu denganmu pasti kau sedang menangis.”ujar Vandi. Dina menunduk malu dan buru-buru menghapuskan air matanya.

”Oh iya. Ini saputanganmu. Aku tidak tahu kapan aku bisa menemukanmu dan mengembalikannya.”

Dina mengeluarkan saputangan milik Vandi dari tasnya lalu menyerahkannya. Namun Vandi menolaknya.

”Sepertinya hari ini bukan waktu yang tepat untuk mengembalikan saputanganku. Lebih baik kau pakai untuk menghapus air matamu. Nanti kalau kau sudah tidak bersedih lagi, barulah kau bisa mengembalikan saputanganku.”

Dina tertegun mendengarnya. Dengan sedikit terpaksa dia pun memasukkan kembali saputangan itu ke dalam tasnya. Dan kembali memakan rotinya sambil minum jusnya. Begitu juga Vandi.

”Oh iya, aku belum mengetahui namamu. Aku Vandi, panggil saja Vandi.”kata Vandi sambil mengulurkan tangannya.

Dina pun menyambutnya sambil tersenyum.

”Dina, Dina.”jawab Dina sambil berjabat tangan dengannya.

”Dina. Nama yang indah.”

Dina tersenyum mendengarnya.

Mereka pun kembali memakan roti.

”Oh iya, kalau aku boleh tahu. Kenapa kau menangis?”tanya Vandi.

Dina terdiam.

”Oh maaf. Kalau kau tidak mau cerita. Tidak apa-apa. Aku tidak akan memaksakanmu.”ujar Vandi yang merasa bersalah dengan Dina.

Dina malah tertawa cekikikan. Membuat Vandi agak bingung melihatnya.

”Kenapa kau malah tertawa?”tanya Vandi.

”Kau ini sungguh lucu sekali. Aku bukannya tidak mau cerita denganmu tetapi memang aku sedang malas bercerita.”jawab Dina.

”Oh begitu. Aku pikir kenapa. Baiklah. Kalau kau memang sudah ingin bercerita. Jangan lupa panggil aku ya?” ucap Vandi sambil menunjukkan jari kelingkingnya.

Melihat itu, Dina tertawa dan menyatukan jari kelingkingnya ke jari Vandi yang diacungkan.

“Baiklah.” mereka pun berjanji dan mengobrol-ngobrol. Perkataan Vandi kadang membuat Dina tertawa seolah dia melupakan kesedihan yang tadi karena Rava.

Layla terus gelisah di depan rumahnya. Dia sudah berjanji akan memperkenalkan sepupunya kepada Dina. Namun Dina belum menampakkan batang hidungnya.

Tidak lama, akhirnya Dina pun datang. Layla langsung menghampirinya.

”Dina! Kau ini dari mana saja? Aku menunggumu.”tanya Layla dengan sedikit kesal. Dina pun langsung meminta maaf.

”Maaf, Layla. Tadi aku ada urusan dengan temanku.”

”Ah sudahlah, yang pasti sebentar lagi dia akan datang.”

Layla menarik Dina masuk ke dalam rumahnya. Namun langkahnya terhenti karena sebuah mobil berhenti didepan mereka. Dan seorang pemuda keluar dari mobilnya dan menghampiri Layla.

”Maaf Layla. Aku terlambat.”ucapnya menyesal.

Dina tertegun melihatnya.

”Lupakan saja itu. Dina, kenalkan dia ini sepupuku. Vandi.”

Vandi pun terkejut melihat Dina.

”Dina?”
Dina pun tidak kalah kagetnya.

”Vandi?”

Layla hanya terdiam bingung melihat keterkejutan mereka.

TO BE CONTINUED……………………………..